Kemarau Datang, Asap Menyerang

03 November 2015 | By admin in Lingkungan Hidup

Indonesia kembali berhasil menarik perhatian dunia, bukan dari prestasi putra-putrinya dalam olimpiade sains atau bidang olahraga seperti bulu tangkis maupun dari bidang lain yang membanggakan. Akan tetapi, perhatian tersebut didapat dari ekspor asap ke negara tetangga. Kok bisa! Bukankah yang terkena dampak hanya sebagian negara Asia Tenggara saja.

Seperti yang kita ketahui di Asia Tenggara ada dua negara yang menyelenggarakan ajang olahraga otomotif dunia. Yang pertama Singapura dengan F1-nya dan kedua adalah Malaysia dengan ajang Moto GP. Peserta yang mengikutinya sebagian besar dari negara Eropa. Bayangkan betapa malunya kita jika sampai penyelenggaraan kedua lomba tersebut sampai ditunda atau bahkan dibatalkan hanya karena kabut asap. Hal tersebut karena sangat membahayakan para peserta. Sebab kedua olahraga tersebut membutuhkan konsentrasi tinggi dimana indera pengelihatan sangat diandalkan.

Setiap tahun sebagai negara yang hanya mengenal dua musim, hujan dan kemarau, seharusnya kita merasa beruntung. Mengapa demikian, karena negara kita mempunyai iklim tropis dengan karunia hutan hujan tropisnya. Sehingga kekayaan plasma nutfah didalamnya melimpah. Karena perubahan musim akhir-akhir ini, musim kemarau dirasa semakin bertambah panjang, sehingga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Kebakaran dapat terjadi karena dua faktor, yaitu faktor alam dan manusia. Tetapi faktor manusia lah yang merupakan penyebab utama dari kebakaran yang sering terjadi akhir-akhir ini. Hal ini terutama disebabkan oleh masalah ekonomi. Banyak pihak yang terlibat, baik itu pihak perusahaan maupun oknum-oknum masyarakat. Well, tulisan ini tidak akan membahas siapa yang harus dipersalahkan, karena masalah ini merupakan tanggung jawab kita semua dalam menjaga hutan.

Oke, sekarang kita akan membahas dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan terutama dari segi kesehatan. Berikut sebagian dari partikel atau gas berbahaya yang ditimbulkan dari proses pembakaran, terutama merupakan parameter dasar penyumbang pencemaran udara yang tertuang dalam keputusan Kepala Bapedal Nomor Kep-107/Kabapedal/11/1997.

PM 10. Yaitu partikel padat dengan ukuran kurang dari 10 µg.  Menurut WHO, besarnya ukuran partikulat debu yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan manusia adalah yang berukuran 0,1 µm sampai dengan kurang dari 10 µm. Pada konsentrasi 140 µg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak, sementara pada konsentrasi 350 µg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronkhitis. Partikulat  juga merupakan sumber utama kabut asap yang menurunkan visibilitas.

SO2. Dalam bentuk gas, SO2 dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru yang menyebabkan timbulnya kesulitan bernafas, terutama pada kelompok orang yang sensitif seperti orang berpenyakit asma, anak-anak dan lansia. Tingginya kadar SO2 di udara merupakan salah satu penyebab terjadinya hujan asam. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman.

CO. Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti CO2 senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.

NO2. Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfer yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Penelitian menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang.

O3. Ozon termasuk pencemar sekunder karena tidak diemisikan secara langsung oleh suatu sumber,melainkan terbentuk akibat reaksi dari sinar matahari dan udara yang mengandung CO, NOx, dan VOC. Ozon (O3) merupakan senyawa oksidan yang memiliki sifat sebagai pengoksidasi kuat setelah fluor, oksigen dan oksigen fluorida. Ozon pada kadar 1,0–3,0 ppm selama 2 jam pada orang-orang yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat dan kehilangan koordinasi.

Nah, itulah gambaran dari dampak pencemaran udara yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan. Jika musim kemarau datang dan kabut asap menyerang, cara terbaik yang dapat kita lakukan adalah dengan selalu menjaga kesehatan seperti berolahraga ringan, makan makanan bergizi dan perbanyak minum air putih. Kurangi aktivitas diluar ruangan dan jika terpaksa ke luar, gunakanlah masker setiap saat.

 

Bersikaplah bijak, jangan mengeksploitasi alam secara berlebihan karena kita hidup dari kemurahan alam.

 

Sumber :
http://airveronmental.blogspot.co.id/2015/02/karakteristik-dan-dampak-tsp-pm-25-dan.html
http://airveronmental.blogspot.co.id/2015/02/parameter-pencemar-udara-kriteria-dan.html
http://airveronmental.blogspot.co.id/2015/02/karakteristik-dan-dampak-ozon.html

Leave a Comment